Analisis Komunikasi Asosiatif dan Disosiatif Anatara Seventeen dan Carat Di Weverse
Abstrak
Penelitian ini mengkaji komunikasi asosiatif dan disosiatif antara grup SEVENTEEN dan penggemarnya, Carat, di platform Weverse. Aplikasi seperti Weverse membuat hubungan antara idol dan penggemar semakin dinamis di era digital, memungkinkan komunikasi dua arah melalui unggahan, komentar, dan live. Tetapi pola komunikasi ini sering mencampur dukungan positif dengan konflik potensial, yang belum banyak dibahas di fandom Indonesia. Rumusan masalah difokuskan pada cara komunikasi asosiatif (dukungan, solidaritas) dan disosiatif (teguran, batas privasi) muncul dalam interaksi dan bagaimana hal ini berdampak pada kohesi komunitas digital. Untuk observasi yang berlangsung dari Desember 2024 hingga Juni 2025, metode kualitatif yang menggunakan etnografi virtual dan analisis isi diterapkan. Ini menggunakan triangulasi data dari screenshot dan catatan lapangan. Hasil menunjukkan pola yang berbeda: asosiasiatif melalui dukungan (seperti Dino's "chanranghae") dan komedi (seperti Vernon-Carats), disosiatif melalui teguran halus (seperti S. Coups, Woozi terhadap candaan yang tidak pantas). Negosiasi makna simbolik memperkuat loyalitas dan norma, menurut teori interaksi simbolik. Di Weverse, komunikasi membentuk dinamika fandom yang sehat melalui keseimbangan asosiatif (memperkuat ikatan emosional) dan disosiatif (menjaga batas etika). Ini membantu studi komunikasi digital dan strategi industri hiburan.
Keywords
Komunikasi Asosiatif; Komunikasi Disosiatif; Seventeen; Carat; WeverseReferensi
- Dariusz, D. (2022). Association with and dissociation from groups in response to personal and social identity threats: the role of self-construal and anxiety. The Open Psychology Journal, 15(1).
- Derung, T. N. (2017a). Interaksionisme simbolik dalam kehidupan bermasyarakat. SAPA: Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 2(1), 118–131.
- Derung, T. N. (2017b). Interaksionisme simbolik dalam kehidupan bermasyarakat. SAPA: Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 2(1), 118–131.
- Diva, A., & Indriastuti, Y. (2024). Self Disclosure SEVENTEEN CARAT Melalui Fan Account di Media Sosial Twitter “X.” Journal Education Innovation (JEI), 2(2), 252–259.
- Flinchum, E., Roy, E., & Arif, R. (2024). Displays of Parasocial Interaction in K-Pop: A Content Analysis of YouTube Comments on BTS’s Music Videos. Korean Journal of Communication, 1(2), 77–109.
- Handoyo, P. (2015). Anggie Wahyu Pusparatri. Paradigma, 3(01).
- Hess, A. (2001). Emile Durkheim, Georg Simmel and Ferdinand Tönnies: Social Differentiation and Functionalist Sociology BT - Concepts of Social Stratification (pp. 36–49). Palgrave Macmillan UK. https://doi.org/10.1057/9780230629219_4
- Jennissen, R., Bovens, M., Engbersen, G., & Bokhorst, M. (2022). Strengthening social cohesion BT - Migration Diversity and Social Cohesion: Reassessing the Dutch Policy Agenda (pp. 101–134). Springer.
- Kelshaw, T. (2005). Political Participation. Communication as...: Perspectives on Theory, 155.
- Kim, Y. Y. (2007). Ideology, Identity, and Intercultural Communication: An Analysis of Differing Academic Conceptions of Cultural Identity. Journal of Intercultural Communication Research, 36(3), 237–253. https://doi.org/10.1080/17475750701737181
- Lee, Y., & Park, S. (2025). Classifying and Characterizing Fandom Activities: A Focus on Superfans’ Posting and Commenting Behaviors in a Digital Fandom Community. Applied Sciences, 15(9), 4723. https://doi.org/10.3390/app15094723
- Mayasari, F. (2022). Etnografi Virtual Fenomena Cancel Culture dan Partisipasi Pengguna Media terhadap Tokoh Publik di Media Sosia. 1, 27–44.
- Mekarisce, A. A. (2020). Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian kualitatif di bidang kesehatan masyarakat. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat: Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat, 12(3), 145–151.
- Nurfajriani, W. V, Ilhami, M. W., Mahendra, A., Afgani, M. W., & Sirodj, R. A. (2024). Triangulasi data dalam analisis data kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(17), 826–833.
- Nurhidayat, I., & Garis, R. R. (2023). Trend Komunikasi Politik Di Media Sosial. Jurnal Lanskap Politik, 1(2), 1–24.
- Osborne, N. R., Owen, A. M., & Fernández-Espejo, D. (2015). The dissociation between command following and communication in disorders of consciousness: an fMRI study in healthy subjects. Frontiers in Human Neuroscience, 9. https://doi.org/10.3389/fnhum.2015.00493
- Rachmaniar R. A., P. P. (2021). Studi Etnografi Virtual tentang Budaya Mahasiswa dalam Perkuliahan Online di Aplikasi Zoom. 20, 81–92.
- Saldyni, N. (2021). Mengenal Weverse, Aplikasi yang Tengah Populer di Kalangan Fans KPop. URBANASIA.
- Sarmiati, E. R. R. (2019). Komunikasi Interpersonal Elva Ronaning Roem Sarmiati Cv. Irdh.
- Seligman, R., & Kirmayer, L. J. (2008). Dissociative Experience and Cultural Neuroscience: Narrative, Metaphor and Mechanism. Culture, Medicine and Psychiatry, 32(1), 31–64. https://doi.org/10.1007/s11013-007-9077-8
- Sofiyana, M. S., Lestari, L. D., Triamini, M. H., Faizah, A. I., & Ardiyansyah, V. R. (2021). Sosialisasi Pemanfaatan Media Sosial Untuk Meningkatkan Pemasaran UMKM di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. J. APTEKMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), 4(4), 96–100. https://jurnal.polsri.ac.id/index.php/aptekmas/article/view/3556/1732
- Sugiyono, P. D. (2010). Metode Peneliian. Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D.
- Tofani, A. Z. (2023). Weverse Sebagai Sarana Komunikasi Fans Dengan Idol (Studi Pada Interaksi Seventeen Dan Carat). Prosiding Konferensi Nasional Sosial Dan Politik (Konaspol), 1, 349–358.