Main Article Content

Abstract

Tradisi naung ri ere adalah tradisi turun ke air (sungai). Tradisi ini dilaksanakan setelah pesta pernikahan dan dilakukan di tempat yang sakral. Dalam perkembangannya, tradisi ini menyebabkan terjadinya konflik antara masyarakat adat dan muslim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses tradisi naung ri ere dan pandangan Tokoh Muhammadiyah terhadap tradisi tersebut menurut perspektif ‘urf yang dilakukan oleh masyarakat Desa Balassuka, Kecamatan Tombolo Pao. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan ‘urf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi naung ri ere dilakukan di sungai dengan meletakkan sesajian, membacakan do’a selamat dan memandikan pengantin baru. Pandangan tokoh Muhammadiyah terkait tradisi naung ri ere adalah tidak diperbolehkan dalam agama karena berkaitan dengan kayakinan. Dengan demikian tradisi naung ri ere menurut kaca mata ‘urf adalah tradisi yang tidak patut dilestarikan.

Keywords

‘Urf Naung Ri Ere Tokoh Muhammadiyah Upacara Adat

Article Details

References

  1. Afifah, S. N., Tahir, H., & Asni. (2022). Pandangan Hukum Islam Terhadap Tradisi Appabattu Nikkah dalam Pernikahan Adat Makassar (Desa Bontoala Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa). Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam, 4(1), 81-99.
  2. Ahmad, I. (1998). Al Musnad Lil Imam Ahmad Bin Hanbal. Baitul Afkar al-Dauliyyah.
  3. As-Sa’di, A. B. N. (2020). Syarah Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah. Rumaysho.
  4. Atabik, A., & Mudhiiah, K. (2014). Pernikahan dan Hikmahnya Perspektif Hukum Islam. Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, 5(2), 286–316.
  5. Aziz, S. (2017). Tradisi Pernikahan Adat Jawa Keraton Membentuk Keluarga Sakinah. IBDA`: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 15(1), 22–41. https://doi.org/10.24090/ibda.v15i1.724
  6. Buhori. (2017). Islam dan Tradisi Lokal di Nusantara (Telaah Kritis Terhadap Tradisi Pelet Betteng pada Masyarakat Madura dalam Perspektif Hukum Islam). Al-Maslahah: Jurnal Ilmu Syariah, 13(2). https://doi.org/10.24260/almaslahah.v13i2.926
  7. Darma, M. (2010). Komunikasi Adat Karampuang di Sinjai. Alauddin University Press.
  8. Habibi, R. K., & Kusdarini, E. (2020). Kearifan Lokal Masyarakat dalam Melestarikan Tradisi Pernikahan Pepadun di Lampung Utara. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 22(1). https://doi.org/10.25077/jantro.v22.n1.p60-69.2020
  9. Hairuddin, Tahir, H., & Ilyas, M. (2022). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Naung Riere. Qadauna: Jurnal Ilmiah Hukum Keluarga Islam, 3(2), 285–298.
  10. Muhammad, B. (2002). Pokok-Pokok Hukum Adat. PT. Pradnya Paramitha.
  11. Nurhayati, A. (2011). Pernikahan dalam Perspektif Al-Quran. Asas: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 3(1), 332–333.
  12. Padindang, A. (2015). Seni Tradisional Sulawesi Selatan. Lamacca Press
  13. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2018). Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah.
  14. Sarjana, S. A., & Suratman, I. M. (2018). Pengaruh Realitas Sosial Terhadap Perubahan Hukum Islam: Telaah Atas Konsep ‘Urf. Tsaqafah, 13(2). https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v13i2.1509
  15. Tihami & Sahrani, S. (2019). Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap. Rajawali Pers.
  16. Zubaedi (2013). Pembangunan Masyarakat Desa. Prenadamedia Grup.