Main Article Content

Abstract

Penetapan sanksi tindak pidana pencurian dalam perspektif hukum pidana positif dan hukum pidana Islam sangatlah berbeda. Saat ini banyak pencurian seringkali dilakukan pelaku residivis dan masih anak dibawah umur. Apakah sanksi pidana yang dijatuhkan tidak membuat jera si pelaku? Atas perhatian tersebut penulis melakukan penelitian berjudul “Studi Perbandingan Tentang Penetapan Sanksi Pidana Pencurian Berdasarkan Hukum Pidana Positif Indonesia dan Hukum Pidana Islam”. Metode pendekatan dilakukan secara komparatif. Data diambil dari studi kepustakaan dan bahan-bahan hukum terkait serta Al-Quran. Penelitian ini merupakan penelitian normatif. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Sanksi tindak pidana pencurian menurut hukum pidana positif adalah pidana yang diatur ketentuannya dalam Kitab Undang-Undang Pidana yaitu BAB XXII tentang Pencurian. Pidana tersebut berupa pidana penjara, denda, pencabutan hak tertentu tergantung pada ketetapan hakim. Hukum Islam mengatur had/hukuman berupa potong tangan yang diberlakukan bagi pelaku pencurian dengan memenuhi syarat untuk dijatuhi hukuman tersebut, hukuman potong tangan merupakan hukuman had dan diatur dalam Q.S Al-Maidah ayat 38. Persamaan: Memiliki ketentuan “mengambil barang/benda milik orang lain secara melawan hukum” dengan jeratan sanksi apabila dilakukan. Adanya pembinaan moral bagi pelaku pencurian anak-anak dan tidak dikenakan sanksi.Perbedaan: Besaran kerugian yang dikenakan hukuman apabila melakukan tindak pidana mencuri (hukum pidana Islam ¼ dinar, hukum pidana positif tidak diatur).Bentuk hukuman / pidana (hukum pidana Islam potong tangan, hukum pidana positif sesuai KUHP). Sumber sanksi (hukum pidana Islam berasal Allah SWT, hukum pidana positif berasal dari manusia).Berlakunya aturan sanksi (hukum pidana Islam sampai akhir zaman, hukum pidana positif dapat berubah/dinamis sesuai perkembangan aman).

Keywords

Hukum Pidana Islam Hukum Positif Pencurian

Article Details